Keterbatasan Bukan Batasan


Cerita Adhi Setiawan, Lulusan Difabel Bangkit 2021
“Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) penyandang disabilitas hanya 44 persen, lebih rendah dari TPAK nasional yang sebesar 69 persen.”
(Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, 2021)

Meski data yang disuguhkan di atas menunjukkan rendahnya angka partisipasi angkatan kerja penyandang disabilitas, Adhi Setiawan (23) memilih untuk membuat perubahan kecil dengan menjadi seorang penyandang disabilitas yang partisipatif. Keterbatasan yang Adhi miliki sebagai seseorang yang banyak melakukan aktivitas dari atas kursi roda tidak dipandangnya sebagai hambatan. Malah Adhi berhasil lulus dari Bangkit dan menjadi seorang certified TensorFlow Developer.

Tumbuh dengan Rasa Kurang Percaya Diri


Jika harus menggambarkan sosok dirinya yang dulu, Adhi mengaku bahwa ia adalah seseorang yang kurang percaya diri, tidak mau tampil, dan tidak berani untuk mengobrol dengan orang lain. Rendahnya kepercayaan diri Adhi dilatarbelakangi oleh kondisi fisik yang membuat mobilitasnya tak seperti orang kebanyakan. Ia lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri. Bahkan saat memulai studinya di program studi Teknik Informatika, Universitas Brawijaya, Adhi tidak memiliki keberanian untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan di luar kelas.
“Saya merasa nggak pede ikut organisasi kampus karena keterbatasan yang saya punya. Gimana kalau nanti saya harus rapat atau menggelar acara? Saya takut merepotkan orang lain.”
Namun sadar bahwa ketakutan dan prasangka Adhi hanya ada dalam kepala, ia mulai menyadari bahwa tak mungkin ia terus menerus memupuk rasa takut. Terlebih, Adhi mengalami secara langsung bahwa Universitas Brawijaya memberikan fasilitas memadai bagi para difabel untuk berkuliah melalui sebuah lembaga, yaitu PSLD (Pusat Studi dan Layanan Disabilitas). Lembaga ini bertanggung jawab menaungi mahasiswa penyandang disabilitas.

Oleh karenanya, Adhi pun berkeinginan untuk meningkatkan kualitas diri. Ia memberanikan diri mendaftar ke salah satu organisasi kampus, yakni Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya. Organisasi ini merupakan badan eksekutif mahasiswa tingkat universitas yang ada di kampus Adhi.

Ternyata benar bahwa ketakutan Adhi bersarang di dalam kepala. Teman-teman Adhi di Eksekutif Mahasiswa rupanya menyambut difabel seperti Adhi dengan baik. Adhi mengaku bahwa teman-temannya tidak saling membedakan.

Di Eksekutif Mahasiswa, Adhi berperan sebagai Staf IT dengan tanggung jawab dasar yakni mengelola situs organisasi. Di sini, ia jadi bertemu lebih banyak orang dan punya teman yang beragam. Kemampuan berkomunikasi Adhi pun mengalami peningkatan dan ia menjadi seseorang yang lebih terbuka.

Gagal Berulang Kali sebelum “Bangkit”


Ketika masa jabatannya di BEM universitas berakhir, Adhi mulai berpikir untuk terjun langsung di bidang yang ia minati, yakni kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence). Oleh karenanya, agar bekalnya cukup, Adhi mencari berbagai online course dan kesempatan yang terbuka di komunitas IT di kampus. Sayangnya, Adhi berulang kali gagal untuk bisa diterima di komunitas-komunitas IT tersebut.
“Mungkin sudah jalannya,” gumamnya murung saat itu.
Bahkan kegagalan Adhi tidak hanya sampai di sana. Adhi yang sudah sejak 2019 belajar Android dari nol di platform Dicoding ini sempat menemukan Bangkit di tahun yang sama. Saat itu, Bangkit baru saja memulai programnya dan hanya memiliki satu learning path, yakni Machine Learning (ML). ML adalah sesuatu yang sangat ingin Adhi dalami, mengingat ia begitu jatuh cinta pada AI.

Dengan penuh semangat, Adhi mencoba peruntungannya untuk menjadi salah satu dari 300 peserta terpilih Bangkit 2020. Sayangnya, usaha Adhi belum membuahkan hasil. Ia sempat kecewa, tetapi kemudian memahami takdir bahwa mungkin jika ia diterima menjadi peserta Bangkit 2020 yang saat itu masih berformat luring, ia akan sulit menghadiri acara dan berpindah keluar dari kota tempat tinggalnya.

Oleh karenanya, saat Bangkit 2021 hadir dengan sistem pembelajaran yang seratus persen daring, Adhi tidak ragu untuk kembali bangkit dan berusaha lagi. Bahkan saat mendaftar Bangkit 2021, Adhi sedang menyelesaikan skripsi. Oleh karenanya, saat itu, Adhi tidak berharap terlalu banyak. Ia berkeyakinan bahwa kalau ia tidak diterima lagi di Bangkit, itu tandanya, ia benar-benar harus fokus menyelesaikan skripsi.

Namun kali ini, keinginan Adhi terkabul dan usahanya membuahkan hasil yang manis. Adhi diterima sebagai Machine Learning Student di Bangkit 2021. Mahasiswa Teknik Informatika ini pun langsung bersemangat menjalani proses belajar di Bangkit, meski program kesiapan karir ini memiliki jadwal dan materi pembelajaran yang sangat padat. Kesungguhan dan kedisiplinan Adhi membuatnya bisa menggarap skripsi secara beriringan dengan pelatihannya di Bangkit.

Bangkit yang Memberikan Kemudahan Belajar bagi Difabel


Saat ditanya mengenai kemudahan akses belajar Bangkit bagi seorang difabel, Adhi menjawab bahwa proses pembelajaran Bangkit yang seratus persen daring amat sangat memudahkannya. Ia jadi bisa mendapatkan materi berbobot dari satu tempat yang sama, tanpa harus berpindah-pindah. Ini amat melegakan bagi pengguna kursi roda seperti Adhi.

Selain itu, Adhi pun merasa ada banyak pengalaman berkesan yang ia peroleh selama di Bangkit. Salah satu bagian yang paling Adhi sukai adalah Guest Speaker Session mingguan yang diisi oleh para industrial expert inspiratif. Tidak hanya itu, Adhi pun merasakan pengalaman baru nan menarik di Bangkit saat harus belajar IT dalam bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa Inggris Adhi yang semula tidak terlalu bagus pun mengalami peningkatan setelah terbiasa dalam menggunakannya di Bangkit.

Mengerjakan capstone project juga menjadi sesuatu yang seru bagi Adhi. Ia dan teman-temannya menciptakan sebuah aplikasi yang dapat mendeteksi kadar gula dan kalori dalam makanan.

Kemudian, Bangkit mewujudkan salah satu mimpi Adhi untuk menjadi seorang developer tersertifikasi.
“Bangkit memberikan saya kepercayaan diri dan keberanian untuk mengambil sertifikasi. Alhasil, setelah saya mengambil jeda waktu beberapa bulan untuk melakukan review ulang materi dari Bangkit, saya berhasil menjadi certified TensorFlow Developer. Ini karena Bangkit memberikan saya resource pembelajaran lengkap dari Coursera dan Dicoding.”
Akhirnya, Adhi menjadi lulusan Bangkit 2021 sekaligus TensorFlow Developer yang tersertifikasi.

Kontribusi Adhi di Jakarta AI Research


Setelah menyelesaikan studi di Bangkit dan menjadi sarjana di bidang informatika, Adhi memulai kontribusinya di sebuah komunitas bernama Jakarta AI Research. Saat ini, Adhi menjadi seorang Data Science Fellow di komunitas tersebut. Menjadi bagian dari divisi Earth Vision, Adhi bertugas untuk mengembangkan python library yang digunakan untuk melakukan solving computer vision task, yang secara spesifik diperuntukan bagi kegiatan observasi bumi.

Adhi yang juga memiliki minat di bidang fotografi ini mengaku bahwa Bangkit memiliki peranan penting bagi performanya di Jakarta AI Research. Di Bangkit, Adhi memperoleh pengetahuan fundamental matematika ML serta konsep intuisi cara kerja algoritma yang kemudian bermanfaat bagi kontribusinya di komunitas penelitian kecerdasan buatan ini.

Sebagai seorang difabel yang ingin menyemangati sesama teman penyandang disabilitas, Adhi ingin mendorong teman-temannya ini untuk tidak kalah dengan rasa takut.
“Jangan jadikan keterbatasan kita sebagai batasan. Jika kalian punya impian atau keinginan, jangan takut untuk mencoba dulu dan mengusahakan dulu. Apabila gagal, jangan putus asa, lalu ambil hikmah dari kegagalan tersebut. Mungkin hal yang kita inginkan itu belum baik untuk kita sampai waktunya tepat.”
Kemudian untuk para peserta Bangkit 2022, Adhi berpesan agar teman-temannya ini senantiasa menjaga kesehatan. Ia paham betul bahwa Bangkit memiliki jadwal kegiatan yang padat dan membutuhkan kondisi kesehatan yang prima dalam menjalaninya. Oleh karenanya, sembari menjaga semangat belajar tetap utuh, Adhi berpesan agar teman-teman di Bangkit 2022 tidak terlalu keras terhadap diri sendiri.

Bagaimana dengan kamu? Apapun kesulitan yang kamu hadapi, ia bukan batasan untukmu bisa menorehkan karya dan berprestasi seperti Adhi!

Baca cerita inspiratif lulusan Bangkit lainnya berikut ini:

Comments

Popular posts from this blog

Reza Albian Jawas: Penjaga Warnet yang Jadi Pengembang Aplikasi

Try to be the Winner of Every Battle

A Deliveryman Who Became an IT Staff at the Cabinet Secretariat of the Republic of Indonesia